Ahad, 4 Ogos 2013

Filem Suatu Malam Kubur Berasap (2011)

 

 
Free Download Filem Suatu Malam Kubur Berasap (2011) DVDRip

Sinopsis Filem Suatu Malam Kubur Berasap (2011)

Bertempat di ‘Kampung Angan Tak Sudah’, filem ‘Suatu Malam Kubur Berasap’ ini mengisahkan cerita tentang tiga sahabat kampung iaitu Atan, Bun, Pet dan seorang sahabat dari bandar yang baru dikenali iaitu Mie. Atan (Angah Raja Lawak) seorang yang lurus bendul, rajin, ringan tulang dan bekerja sebagai penggali kubur. Bun (Along Raja Lawak) seorang kutu rayau yang gemar merempit dengan motor kapcainya. Hampir setiap malam beliau akan mengacau gadis-gadis kilang yang baru pulang dari bekerja. Pet (Azrul Raja Lawak) merupakan pemandu lori ayam yang sering bekerja lewat malam. Beliau mempunyai suara yang sengau, suka berlagak dan bercakap besar terutamanya melibatkan perkara mistik dan hantu. Ketiga-tiga mereka sering diganggu oleh Jerdil dan Tocai, Geng Beduk, samseng kampung.

Pelakon Filem Suatu Malam Kubur Berasap (2011)

Angah RL, Along Cham, Azrul Zaidi, Nurul Ain, Zami Ismail, Acappan, Ruminah Sidek, Zac Diamond, Wira RL dan Faiz RL.


Sumber

Arwah Zaskia Bangkit Dari Kubur


Manusia yang sudah mati hidup kembali, mana mungkin? Berangkat dari pertanyaan inilah aku ikut serta dalam ritual penangkapan hantu kuburan Talanggayau, tempat di mana Hantu Zakiah sering maujud dan menakut-nakuti warga.

Pada suatu hari, Kamis Pon l3 Januari l990 pukul l8.40 WIB, anak bungsu almarhumah Zaskiah, Herman yang baru berumur l0 tahun, dikejutkan oleh kehadiran ibunya yang sudah tiga bulan meninggal. Saat itu Herman sedang menonton tivi di ruang depan rumahnya di Tebing Giling, Ogan Ilir, Sumatera Selatan.

Di saat asyik menonton televisi, Herman melihat kemunculan ibunya yang tiba-tiba dan mematikan tv yang sedang dia tonton. Di luar kesadaran bahwa ibunya sudah meninggal, Herman berteriak kepada ibunya. "Mama, jangan matikan televisi, aku lagi nonton nih!" pekik Herman, polos. Dalam hitungan detik, ibunya yang menggunakan baju kebaya hitam yang biasa dikenakan di saat masih hidup itu, menghilang entah ke mana.

Ayahnya yang baru saja usai ambil wuduh untuk sembahyang magrib, kaget mendengar Herman memanggil mamanya. "Kamu barusan kenapa Her? Kamu memanggil mama dan meminta mama tidak mematikan tivi?" Tanya Herman. Setelah dijawab iya oleh Herman, kagetlah Si Ayah. Sebab Herman benar-benar melihat ibunya yang sudah meninggal, datang lagi dan mematikan tivi. "Ibu memakai baju kebaya warna hitam dan sarung warna coklat yang biasa dipakainya di waktu masih hidup!" cerita Herman.

Mulanya Ardan, ayah Herman mengira anaknya mengigau. Atau Si Bungsu sedang berhalusinasi karena sedang merindukan ibunya. Tapi habis sholat magrib, Ardan diikejutkan lagi oleh kelebat hitam di ruang sembahyang. Setelah diperhatikannya dengan seksama, kelebat itu ternyata sosok Zaskiah, almarhumah istrinya yang telah memberinya tiga anak. "Oh Tuhan, bukankah itu Zaskiah?" batin Ardan.

Ardan segera menghambur ke ruang belakang di mana istrinya itu melesat. Sesampainya di lorong menuju dapur, Ardan melihat telak wajah istrinya yang tegak menghadap ke arahnya dengan wajah pucat berbola mata warna putih semuanya. Zakiah memakai kebaya warna hitam dan sarung coklat kesukaannya ketika masih hidup. "Zakiah! Kamukah itu?" tanya Ardan.

Karena sudah menjadi hantu, Zaskiah tidak menjawab sepatah kata pun. Dalam hitungan detik setelah ditanya, sosok Zaskiah pun menghilang ke luar jendela yang belum terkunci. "Zakiah, Zakiah, ke mana kamu?" imbuh Ardan makin penasaran.

Sejak malam itu Ardan menjadi gelisah. Matanya tak dapat dipejamkan dan Ardan sama sekali tak dapat tidur. Jantungnya mulai goyah dan batinnya pun resah. Perasaan pun tiba-tiba menjadi gamang. Pikirannya jauh menerawang ke sosok istri yang sangat dicintainya itu. Juga pada kenangan in dah saat terakhir kali dia berdua istrinya di Sungai Musi dengan speedboat berdua. Batin Ardan, mana mungkin Zaskiah yang sudah mati bisa hidup kembali dan menjadi hantu seperti itu?

Sebelum pertanyaan itu terjawab oleh nya sendiri, Ardan disentak oleh jeritan Nyonya Hamid, tetangga sebelah selatan rumahnya. Ardan segera beranjak keluar rumah dan bertanya pada Nyonya Hamid. Nyoya Hamid tersungkur di lantai bawah rumahnya dan seperti orang trans. "Kenapa Bu?" tanya Ardan, gelagapan.

Karena masih trans, Nyonya Hamid tidak dapat menjawab pertanyaan Ardan. Tapi mata istri Hamid itu melotot ke arah Ardan seperti mau marah. Setelah minum air putih yang dibaca-bacai oleh Hamid, suaminya, ibu muda itupun akhirnya sadar. Dalam sadarnya, dia bercerita bahwa baru saja dia dicekik oleh Zaskiah, almarhumah yang sudah tiga bulan lalu dikubur.

"Istri bapak hidup lagi dan dengan jelas saya lihat wajahnya. Tapi bola matanya semuanya putih dan giginya bertaring dua," ungkap Nyonya Hamid, datar. Hamid terperanjat mendengar cerita istrinya itu. Sedang Ardan hanya diam dan tertunduk tak bisa membantah lagi. Sebab dia dan anaknya, Herman, baru saja melihat Zaskiah di rumahnya.

Ardan meminta pada keluarga Hamid agar tidak menyebarkan cerita itu ke luar. Ardan mengaku sangat malu dan terpukul sekali bila banyak orang tau bahwa Zaskiah menjadi hantu. Bagi manusia baik-baik, terutama Ardan yang rajin sekali ke mesjid, akan sangat terpukul bila warga mengetahui almarhumah istrinya menjadi hantu. "Bukan Cuma saya, saya semua anak-anak saya akan terpukul dan malu oleh aib ini! Tolonglah, simpanlah cerita ini dan jangan samapi keluar!" harapn Ardan.

Ardan berdalih, bahwa setiap manusia yang mati jadi hantu, biasanya, orang tersebut saat hidupnya sangat jahat. Selain banyak dosa kepada sesama, dia juga biasanya punya hati busuk ketika hidup. Syirik, dengki, iri hati dan nyinyir. "Walau saya sangat mencintainya, tapi saya akui istri saya telah banyak menyakiti hati orang dengan pekerjaannya sebagai pedagang uang!" aku Ardan.

Memang Ardan tahu betul tentang tabiat istrinya itu. Ketika hidup, istrinya menjadi lintah darat dan memperdagangkan uang dengan bunga yang besar. Bila pelanggan terlambat bayar, Zaskiah tidak segan-segan mengambil benda-benda berharga secara paksa. Bahkan kerap ula melakukan kekerasan bersama pasukan penagih hutangnya yang terdiri dari preman-preman berbadan besar. Selain banyak menyiksa penghutang, Zaskiah juga terkenal berani melawan suami, punya hati syirik, dengki, iri dan mulutnya sangat pedas menyakiti hati orang.

Pada saat Zazkiah dimakamkan di Pemakaman Talanggayau, pelayat sudah curiga bahwa matinya Zakiah tidak sempurna. Sebab selain tanahnya sangat kurang untuk menutupi kuburannya, di dalam kuburan juga mengalir air dan berkumpul banyak belatung. Kata orang, bila manusia banyak menyakiti hati orang lain, kuburannya akan sempit dan banyak belatung dan ular di makamnya.

Benar saja, setelah tiga bulan dimakamkan, mayat Zaskiah bangkit lagi. Setiap sore hari tertentu menjelang azan magrib, kuburannya merekah kemudian mengeluarkan asap putih. Asap itu bergumpal lalu maujud seperti sosoknya ketika hidup. Bedanya, kini dia bertaring dan bermata putih tanpa bolamata hitam dengan wajah yang pucat tidak berdarah.

Setiap malam jumat kliwon, selasan wage dan minggu pon, arwah Zakiah maujud berkeliling kampung. Bahkan orang-orang yang lalu lalang di jalanan depan rumahnya, kerap melihat sosok Zakiah di bawah rumah panggung miliknya. Di dalam kegelapan dan samar-samar malam, sosoknya selalu duduk jongkok menghitung uang di tangannya. Saat senter mengarah kepadanya, matanya akan membelalak dengan warna putih semua, mulutnya membuka memperlihatkan taring bagaikan drakula di film-film horor. Jadi, walau Hamid dan istrinya tidak membocorkan kejadian yang mereka alami, karena warga lain melihat sendiri hantu Zaskiah, maka menyebarlah kasus Bangkit Dari Kubur itu menyebar ke antero keluarahan.

Menurut para dukun di wilayah itu, bahwa hantu Zakiah menghitung uang karena semasa hidupnya diperbudak oleh uang. Dia sangat tergila-gila dengan uang bahkan menjadikan uang seperti Tuhan dalam tanda petik. Zakiah memperdagangkan uang dengan kesadisannya tersendiri. Uang itu diperanakpinakkan dan dibungakan dengan bunga yang mencekik leher. Zakiah menggunakan kesempatan pada orang-orang yang terdesak butuh uang dengan bunga yang teramat besar dan cara penagihan yang menekan orang. Banyak pelanggan yang sakit hati, stress dan bahkan ada yang sampai mati karenadepresi. Maka itulah, saat meninggal, Zakiah menjadi hantu. Hantu yang mengerikan dan membuat kampung menjadi angker.

Sebagai wartawati bidang supranatural, aku tertarik betul ketika kumpulan paranormal Indralaya melakukan ritual penyempurnaan arwah. Hantu Zaskiah akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam botol lalu dilarung ke Sungai Musi dan dihanyutkan ke laut Selat Bangka, 68 mil laut dari jembatan Ampera kota Palembang.

Malam Jumat Kliwon, l8 Maret l990, dilakukan ritual penangkapan arwah di makam Zaskiah di Talanggayau. Lima paranormal asal Indralaya itu memperbolehkan aku meliput. Kusiapkan handycam Sony CCD. Juga kodak camera Nikon FM 2 dengan ASA l600 serta kamera tv close sircuit penangkap cahaya berintensitas rendah.

Batinku gamang juga saat kelima paranormal itu membakar hio, madat Turki, kemenyan Arab dan meletakkan Apel Jin di pusara Zaskiah. Mereka berkomat kamit membaca mantra sedangkan aku sibuk menepuk nyamuk yang begitu banyak hinggap di tangan dan kakiku. Pas bersamaan dengan suara azan magrib dari surau terdekat, tiba-tiba pusara bagian kepala Zaskiah merekah. Tanah membuka selebar l0 sentimeter dengan dimulai meretak secara alami dikit demi sedikit. Dalam hitungan detik, lobang yang membuka itu mengeluarkan asap. Lima paranormalyang dipimpin Bang Usni itu buru-buru meletakkan botol di bagian lobang kemudian menampung semua asap hingga memenuhi botol. Setelah penuh dan asap dari dalam makam habis, botol itu ditutup dengan penutupnya. Agar penutup itu menjadi kuat, Bang usni menambah pula tutup plastik tebal dan diikat dengan Karet ban.

Setelah rapih, lima paranormal itu bermeditasi lagi dan mengucapkan mantra-mantra khas. Beberapa saat kemudian, mereka merapihkan kembali apel jin, madat Turki dan kemenyan Arab yang telah mereka bakar. Lalu kami bersama-sama pergi ke kota Palembang dan melarung botol itu ke Sungai Musi yang sedang surut ke arah laut Sungsang di Selat Bangka. Semua peristiwa itu terekam dalam kameraku dan aku menurunkan liputan itu di majalah segmen supranatural tempatku bekerja.

Botol telah hanyut di sungai menuju laut. Perlahan tapi pasti asap itu mengapung dan pergi untuk selamanya. Kata Bang Usni, asap itu adalah arwah dari alam kubur yang maujud menjadi hantu Zaskiah. Dengan tertangkapnya asap itu, dijamin l00 persen hantu Zaskiah pergi ke alam keabadian dan hantunya tidak akan kembali lagi. Ardan telah membayar mahal pada mereka atas tugas-tugas goib itu. Ardan tak hendak menyusahkan warga karena hantu istrinya yang terus menerus menampakkan diri dan mencari korban.
Tanggal l8 dibuang ke sungai, tanggal 30 Maret l990 pukul l9.00 Hantu Zaskiah ditemukan lagi di bawah rumahnya. Yang melihat hantu itu adalah Ardan sendiri dan Ardan dicekik oleh hantu istrinya itu.

Setelah dipanggil, Bang Usni meminta maaf sebagai botol yang hanyut di Sungai Musi itu tidak sampai ke laut. Di sekitar Pulau Kemaro, botol itu tertabrak baling-baling kapal dan pecah. Asap yang ada di dalam botol kembali mengudara dan balik lagi ke makam Zaskiah. Sepanjang 56 kilometer, kata Bang Usni, asap bisa mengenali makam dan kembali ke jasad yang telah menjadi tulangbelulang. Untuk itulah, Bang usni berjanji akan melakukan ritual menyempurnaan ulang.

Tapi sayang, tanggal 5 April l990, Bang Usni dan empat temannya sesama paranormal, mati dalam kecelakaan lalulintas di Gawaran. Mobil yang mereka tumpangi bertabrakan hebat dengan truk tronton dan semua penumpang carry yang distir Bang Usni, mati semua. Ada kabar menyebar, bahwa arwah Zaskiah itu menampakkan diri di depan carry di gawaran dan membuat Bang Usni tak dapat mengendalikan stir lalu menabrak tronton.

Info itu didapat dari Hardi supir tronton yang melihat kelebat wanita berkebaya di depan carry dan di depan trontonnya. Keterangan itu dikaitkan warga dengan sosok hantu Zaskiah, di mana dari kebaya hitam dan sarung yang dikenakan, merupakan busana khas hantu Zaskiah yang selama ini nampak.

Hingga kini pekuburan Talanggayau masih sangat ditakuti warga. Bila malam sudah tiba, tidak ada seorang pun yang berani melewati pemakaman yang kini jadi buah bibir itu. Walau sudah banyak ulama, kiyai dan ustad yang mendoakan agar arwahnya kembali ke alam barzah, namun hantu Zakiah terus-terusan muncul di hari-hari yang disebut di atas tadi. Hantu Zakiah masih berkeliaran, keluar dari alam pemakaman yang disebut oleh warga sebagai: Bangkit Dari Kubur.


sumber:

Resepi Biskut Keracis

 


biskut keracis
Resepi dan cara-cara membuat biskut keracis yang mudah

Bahan-bahan untuk membuat Biskut Keracis

8 Cawan Cornflake
1 Cawan Gula Pasir
1 Cawan Kacang Tanah – digoreng tanpa minyak
- Buang kulitnya dan tumbuk sedikit
1 Cawan Kelapa Tin (atau gorengkan kelapa parut tanpa minyak hingga kering)
4 Biji Putih Telur Great A
- Coklat chip sebagai hiasan

Cara-cara membuat Biskut Keracis

1. Pukul putih telur sehingga kembang dan masukkan gula pasir sedikit demi sedikit.
2. Bila dah agak pekat dan keras ketepikan dahulu
3. Ramas cornflakes dan gaulkan bersama-sama kacang tanah dan kelapa dalam in tadi.
4. Gaulkan adunan putih telur tadi bersama-sama adunan cornflakes sehingga sebati.
5. Letakkan adunan tadi ke dalam dulang pembakar sedikit-sedikit menggunakan sudu.
6. Tekan-tekan adunan menggunakan garpu supaya nipis dan akan garing dan letakkan coklat chip.
7. Bakar dalam ketuhar yang dipanaskan dahulu dengan kepanasan 160°C sehingga masak
8. Simpan dalam bekas kedap udara

Misteri Gangguan Roh Wanita Di Rumah Sewa

  

Seram! Misteri Gangguan Roh Wanita Di Rumah Sewa | Seperti satu kebiasaan, rumah sewa yang sepatutnya mahal, tiba-tiba menjadi murah sering dikaitkan dengan kejadian yang menyeramkan. Ini kerana tuan rumah seperti terdesak untuk mencari penyewa tanpa memaklumkan perihal yang berlaku di rumah tersebut. Seperti yang berlaku di Syeksyen 2 Shah Alam. Namun KisahBest.My difahamkan rumah sewa di Shah Alam sebenarnya tidak benar seperti yang didakwa oleh pemilik dan jiran terdekat. Jom ikuti kisah di bawah ini.
 
seram
seakdar gambar hiasan
“Abang dah jumpa rumah yang sesuai untuk kita. Kalau tak ada masalah, hujung bulan ni kita pindah. Rasanya sesuai untuk kita berdua. Kalau ada saudara mara yang datang pun senang sebab rumah tu besar,” ujar Amil kepada isterinya, Niza.
“Rumah kat mana bang. Senang ke saya nak pergi kerja,” tanya Niza membalas cakap suaminya. “Di kampung seberang. Sewanya pun murah, RM400 sebulan. Rumah teres dua tingkat. Masa pusing-pusing di kampung seberang, abang ternampak papan tanda rumah untuk disewa. Tuan rumah pun tak banyak tanya, terus sahaja setuju bila abang cakap nak sewa. Malah dia tak minta pun dulu duit pendahuluan macam orang lain. Lagipun tak seronoklah duduk di rumah mak. Sekurang-kurangnya kita perlu berdikari,” jelas Amil bersungguh-sungguh.
Baru sebulan berkahwin, sememangnya Amil mahu hidup berdikari. Dia tidak mahu menyusahkan keluarga mentuanya apabila tinggal bersama. Lagipun dia perlu suasana yang tenteram kerana kerjaya sebagai pelukis membuatkan dia lebih senang berseorangan agar ilhamnya lebih kreatif. Cukup bulan, pengantin baru ini menganbil keputusan berpindah rumah. Biarpun keluarga mentuanya tidak berapa bersetuju tetapi selepas menjelaskan sebab-sebabnya, mereka mengizinkan tambahan pula mereka bersetuju untuk sekerap mungkin balik menjenguk keluarga mentua.
Seharian mengemas, menyebabkan Amil dan isterinya keletihan malam itu. Dia tidur agak nyenyak tetapi malangnya mata Niza tidak juga mahu lelap. Dia merasakan ada sesuatu yang tidak kena, dadanya rasa berdebar-debar yang alang kepalang. Sejenak dia memusingkan tubuhnya, suaminya tidur begitu nyenyak sekali, siap berdengkur. Puas dia mengiring, kiri dan kanan, malangnya matanya tidak mahu lelap. Sejenak Niza bangun dari perbaringannya, dia mahu minum air bagi menghilangkan dahaganya. Semasa dia mahu meneguk air, serentak itu satu bunyi dentuman pintu agak kuat berbunyi. Dia menjerit ketakutan. Matanya meliar. Puas dia memangdang kiri dan kanan. Puas hatinya berfikir, kenapa pintu bilik air berdentum kuat sedangkan bukan ada angin yang bertiup. Meremang bulu romanya, segera dia minum dan bergegas naik ke tingkat atas. Suaminya masih lagi tidur selena-lenanya. Malam itu sedikit pun dia tidak dapat melelapkan matanya.
“Kenapa mata sayang nampak sembap. Tak tidur lena ke duduk rumah baru,” gurau suaminya.
“Entahlah bang, mata Niza tak boleh lelap walaupun seketika. Rasa macam ada mata yang mengintai dan melihat apa yang kita buat. Malam tadi pun masa abang tengah nyenyak tidur, Niza turun ke bawah untuk minum air. Tak semena-mena pintu bilik air berdentum tertutup dengan sendiri. Niza rasa tak sedap hatilah bang tinggal di sini,” jelasnya.
“Ada-ada sajalah Niza ni, abang tak ada rasa apa yang ayang rasa. Agaknya ayang tak biasa lagi kot, tinggal di rumah baru. Hah! Kalau ada hantu nak kacau, kejutkan saja abang, tahu lah abang kung fu dia,” gurau Amil sambil menunjukkan gaya kung fu nya.
“Hah! Abang ingat nak keluar hari ni, ada urusan dengan Hamid. Dia nak bincang mengenai pameran lukisan secara solo dengan abang. Insyallah, kalau jadi projek ni, nampak gayanya kita berbulan madu di luar negara lah,” gurau Amil lagi bagi menyedapkan hati isterinya.
“Abang balik tak tengahari ni. Kalau balik saya nak masak lebih, nanti tak adalah nak membazir sangat.”
“Insyallah, kalau bincang habis cepat, abang balik cepat,” guraunya lagi. Malam itu, sekali lagi Niza tidak dapat lagi melelapkan matanya. Puas dia berpusing kiri dan kanan dan ketika mahu turun ke tingkat bawah, dia nampak bayang-bayang seorang kanak-kanak kecil sedang melompat-lompat ruang tengah rumah. Gementar hatinya. Mana ada budak kecil tinggal di sini, fikir hatinya. Serentak itu, dia menggigil ketakutan dan pantas berlari mengunci bilik tidurnya.
Gangguang demi gangguan dialaminya setiap hari sehingga Niza jatuh sakit. Jika hari sebelumnya dia ternampak bayang kanak-kanak melompat-lompat di ruang tamu rumah, kali ini dia terpandang satu wajah yang mengerikan. Dengan lidah yang terjelir dan rambut kusut masai, wajah mengerikan itu terus memandang dirinya. Niza meracau-racau apabila terpandang wajah hodoh itu.
Puas suaminya meminta bantuan bomoh tetapi semuanya mengaku kalah kerana rumah yang mereka duduki itu agak keras. Seorang kawan memperkenalkan dirinya dengan Ustaz Amran. Tiga hari tiga malam ustaz Amran mengubati isterinya dan alhamdulilah, sembuh sepenuhnya. Mengikut Ustaz Amran, roh wanita yang telah dilihat Niza telah lama berkeliaran di rumah tersebut kerana membunuh diri disebabkan tidak tahan didera suaminya. Dia telah mengelar pergelangan tangan anak kecilnya yang berusia tiga tahun kerana tidak tahan dengan sikap suami yang main kayu tiga.
Patutlah tuan rumah segera meyewakan rumah itu kepada Amil tanpa banyak soal. Rupanya tersimpan misteri yang tidak terungkap sebelum ini.

 

Roh ‘suci’ isteri pulang berjumpa suami

 

 

Hiasan : Majalah Mastika yang memaparkan kisah-kisah misteri menarik, dihidangkan dalam gaya ‘popular writing’ , targetnya untuk golongan remaja, muda dan dewasa dalam kelasnya yang tersendiri.
Baca pautan di blog ini : Membongkar Rahsia Kehebatan Roh
————————————————————–
Kelmarin, saya terbaca sebuah artikel menarik di Majalah Mastika edisi Mei 2008, yang telah dibeli lebih sebulan yang lalu tetapi belum berkesempatan untuk membacanya. Saya mulanya tertarik dengan tajuk kecil di kulit Majalah berbunyi ‘Politik Malaysia dalam bahaya? ‘ lantas membelinya.
Artikel yang paling menarik itu adalah di muka surat 26, tulisan wartawan terkenal Mastika, saudara Shahidan Jaafar bertajuk “ Roh isteri jengah suami di Felda Hulu Tebrau”.
Berdasarkan maklumat dari artikel tersebut, saya membuat carian di internet ke atas nama ‘Dr Talib Samat – UPSI’ , dan hasilnya beliau adalah Pensyarah Jabatan Kesusasteraan Melayu, Fakulti Bahasa, Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Tanjung Malim, Perak.
Artikel ini berkenaan arwah ibunya yang telah meninggal dunia tetapi rohnya masih berkunjung ke rumah keluarga mereka di kampung Felda Hulu Tebrau untuk berbual2 dengan ayahnya. Dr Talib mengundang Mastika untuk menyiarkan kisah ini untuk dijadikan iktibar dan pedoman kepada kita semua.
Pada hari Jumaat 30 November 2007, jam 12.05 tengahari, ibu kepada Dr Talib Samat, Puan Nea Mohd Zain, 75 telah meninggal dunia dan disemadikan pada petangnya di Tanah Perkuburan Islam Hulu Tebrau. Di sini saya petik sebahagian isi artikel tersebut sepertimana yang diceritakan Encik Samat Tukiman, 75, kepada wartawan Mastika.
—————————————————————————

Foto Mastika : Pakcik Samat Tukiman, foto kecil – almarhum makcik Nea Mohd Zain ( moga2 kita bertaubat bersungguh-sungguh demi menelusuri jejak langkah kesolehan makcik Nea)
MALAM itu, majlis tahlil arwah diadakan. Jiran-jiran dan saudara-mara terdekat dijemput.Tiba-tiba ketika majlis tahlil sedang berlangsung, Samat terpandang arwah isterinya datang dengan memakai telekung putih.
Arwah isterinya muncul dari pintu utama dan kemudian berjalan ke kelompok jemaah wanita. Setelah itu, arwah mendekatinya. Samat melihat tubuh isterinya tidak longlai seperti ketika dia sedang sakit dahulu. Tubuhnya segar dan kuat.
“Saya sihat!” jelas arwah isterinya sambil memerhatikan orang yang sedang bertahlil.
Samat senyum dan mengangguk. “Ramai orang di rumah kita ni!?” tanya arwah isterinya.
“Tengah tahlil, baca doa untuk awak!” beritahu Samat.
“Baguslah! Tapi di sana lebih istimewa. Kawan-kawan pun ramai,” beritahu arwah isterinya lagi.
Arwah isterinya itu tidak lama menghadiri majlis tahlil. Setelah muncul beberapa minit dan berbual-bual dengan Samat, wanita itu berjalan menerusi pintu utama dan terus ghaib.
Ketika itu tiada sesiapa yang menyedari kehadiran arwah kecuali Samat seorang.
Pada malam kedua, arwah isterinya datang lagi ketika majlis tahlil sedang berlangsung.
“Masih tahlil lagi?” tanya arwah isterinya.
“Ya. Tahlil,”jawab Samat.
Pada malam berkenaan, itulah sahaja perkara yang ditanya arwah isterinya.
Malam-malam berikutnya, arwah isterinya datang lagi, semasa majlis tahlil diadakan. Selepas bertanya khabar, wanita itu menghilangkan diri semula.
Namun pada malam ketujuh, arwah datang dengan membawa rombongan kawan-kawannya
seramai lebih kurang 60 orang. Setiap ceruk rumahnya penuh dengan kawan-kawan arwah
isterinya. Semua wanita yang dibawa isterinya itu memakai telekung putih, seorang pun tidak dikenalinya.

“Macammana di sana (kubur) ?” tanya Samat.
“Lagi istimewa. Dalam kubur, ada cahaya terang benderang!”
Semasa berbual-bual itu, arwah banyak mengingatkan supaya jangan lupa sembahyang, bersedekah dan membuat ibadat supaya apabila meninggal dunia kelak kuburnya dilimpahi cahaya terang-benderang.
Samat juga diberi gambaran oleh arwah keadaan di kuburnya tidaklah sunyi dan gelap seperti disangka tetapi terang benderang seperti sebuah bandar.
“Rumah kita ni gelap sikit. Tapi sana (kubur) macam bandar, terang-benderangl”beritahu isterinya lagi.
Rakan-rakan arwah semuanya hanya mendiamkan diri.
Samat sempat bertanya arwah bagaimana corak kehidupan dalam kubur.
” Sana saya bukan makan nasi, saya makan kalimah syahadah, lailahaillah dah kenyang,” beritahu isterinya lagi.
Setelah majlis tahlil berakhir, arwah isterinya mengajak 60 orang rakannya tadi pulang. Tapi sebelum pulang, sekali lagi arwah isterinya berpesan kepada Samat supaya jangan lupa bersembahyang.
Kalau berhutang boleh dibayar tapi sembahyang, wajib kena buat,” pesan
arwah lagi.

Samat juga pernah bertembung dengan arwah isterinya dalam sebuah kereta ketika
dalam perjalanan menghantar anaknya, Dr. Talib ke perhentian bas di Larkin, Johor Bahru.

Apabila ditanya Samat, arwah isterinya memberitahu dia sengaja datang untuk mengetahui ke mana anak dan suaminya hendak pergi. Arwah muncul dan sepantas kilat boleh menghilangkan diri – lolos ketika kereta sedang laju bergerak.
Samat juga pernah bertembung dengan isterinya ketika mereka sekeluarga sedang minum di restoran.
Roh arwah juga ada kalanya muncul untuk menolong Samat ketika orang tua itu dalam kesusahan, mengangkat barang seperti kerusi atau menyapu sampah.
“Pernah arwah tolong cabutkan pokok cempaka tu!” cerita Samat. Pokok cempaka tersebut sudah bergoyang- goyang akarnya. Tidak semena-mena arwah isteri Samat datang membantunya mencabut pokok tersebut.

Foto Mastika : Pakcik Samat berbual dengan arwah isterinya, di sebelahnya adalah anaknya Ashidah, adik Dr Talib.
KETIKA  wartawan  Shahidan Jaafar sedang berbual-bual di meja makan di dapur ( dalam pukul 4.00 petang) dengan Samat, tiba-tiba orang tua itu memberitahu arwah isterinya datang.
“Kenapa?, tanya Samat. Ini wartawan Mastika, Shahidan Jaafar. Ini Talib punya syor, Talib suruh masuk cerita awak dalam Mastika, boleh?” kata Samat seolah-olah bertanya kepada arwah isterinya.
Kemudian Samat diam.
“Tak apa! Dia kata boleh tulis. Ceritalah” beritahu Samat seketika kemudian.
Samat menjelaskan, arwah isterinya datang bertudung biasa.

Setengah jam kemudia, sekali lagi isterinya datang, kali ini duduk di atas kusyen pula.
“Awak nampak? Nampak ya? Inilah wartawan Mastika tu!” kata Samat
“Tadi dia beritahu saya, dia nampak wartawan Mastika. Dia kata, baguslah cerita perkara-perkara lama. Dia tanya, Wartwan Mastika nak tidur sini ke?”
“Saya kata tak, Datang nak interviu saja. Dia tanya nakbuat apa? Nak buat pedoman dan iktibar dalam Mastika ke? ” tanya Samat.
Ya! Cerita ini untuk pedoman dan iktibar!
NOTA: Anak-anak Samat juga sering merakam interaksi antara orang’ tua itu dengan arwah ibu mereka. Seperti yang dialami Mastika, gambar dan video yang mereka rakam itu menunjukkan Samat berbual seorang diri. Bayangan arwah ibu mereka tidak kelihatan langsung. Kata mereka, Samat sihat. Percakapan ayah mereka itu normal. Ingatannya masih waras. Selepas seminggu mengunjungi Samat, kami menerima SMS daripada anaknya, Dr. Talib Samat yang memberitahu ada perkembangan terbaru daripada adiknya, Ashidah Samat di Felda Hulu Tebrau di Johor.
“Arwah mak saya menghubungi
Mak cik Niah, isteri Pak cik Sitam, jiran
kami. Roh mak saya ucap terima kasih
kerana pimpin majlis tahlil untuknya. Ini
menunjukkan betapa arwah mak saya
dapat menghubungi orang luar keluarga
saya. Terimakasih. Dr. Talib Samat.”




Sumber