Selasa, 17 Mac 2015

Tempat Misteri - Tanjung Sial Pulau Seram

 

 

 

 

 

Tanjung Sial Pulau Seram Antara Sakral Kramat dan Wisata

Oleh: Kasman Renyaan
 
Tanjung Sial, namanya tak lagi asing bagi masyarakat Kabupaten Seram  Bagian Barat (SBB), Maluku Tenggah, dan Profinsi Maluku umumnya. Lebih khusus  masyarakat Pulau Seram, Manipa, Kelang, dan Buano. Banyak  tersimpan legenda, mitos dan  foklor (cerita rakyat) ditanjung itu. Kebanyakan masyarakat Seram menganggap Tanjung Sial, adalah tanjung kramat nan sacral. Sebab banyak tersimpan cerita-cerita masa lalu, yang melegenda di Tanjung itu, termasuk cerita asal muasal kedatangan etins Buton di Pulau Seram, (baca dan telusuri asal mula kedatangan etnis buton di pulau seram).


Ada yang menyebutnya Tanjung Siang, tapi generasi saat ini lebih akarab mengenal tanjung itu dengan sebutan Tanjung Sial. Dari namanya saja terkenal dengan sebutan Tanjung Sial. Boleh dibilang  Tanjung punuh kesialan, Tanjung pembut sial, dan tanjung pembuang kesiaalan. Memang masyarakat yang melewati tanjung itu, dengan kendraan laut terkadang bernasip sial. Saat kenderaan laut melewati daerah tanjung itu, harus penuh dengan kewaspadaan, kehati-hatian, dan penuh perhitungan ketika pengemudi melewati tanjung itu, sehingga nasib sial tidak datang menghampiri. Kemudian yang didapat adalah keberuntungan.

Konon disekitar Daerah tersebut, pernah ada kendraan laut yang mengalami kecelakaan  tragis. Hilangnya harta benda, dan bahkan menelan korban jiwa. Memang disekitar lautan Tanjung Sial itu, perputaran arus laut sangat kuat dan tak menentu. Maka tidak jarang kebanyakan dari masyarakat melewatinya dengan kenderaan laut, sering bergetar jiwanya penuh ketakutan.  

Untuk mengindari nasip sial ketika melewati tanjung tersebut, warga yang hendak melewati tanjung itu, sering memanjatkan doa, penuh pengharapan kepada Allah SWT, agar dilindungi dari segala macam mara bahaya. Jika, yang orang yang melewati tanjung tersebut punya keteguhan iman dan islam. Namun bagi masyarakat yang masih mempercayai akan adanya kekuatan gaib, maka mereka sering melakukan lakuspiritual, ditanjung itu. Dengan menjatukan uang koin, rokok, tembakau, makanan, apapun bentuknya itu adalah sesajien, atau saji-sajian. Apalagi bagi mereka yang melewati tanjung itu, disaat cuaca buruk, gelombang kuat, angin kencang, sesajienlah solusinya. Agar bisa menenangkan arus laut yang dasyat itu. Namun lakusipritual itu, hanya biasa dilakukan bagi mereka yang meyakini kesakralan Tanjung Sial. Sedangkan bagi mereka yang kurang meyakini kesakralan Tanjung Sial, jika hendak melewatinya hanya beristifar, mengucapkan kalimat Sahadat, dan menyebut nama Allah SWT, agar diberikan pertolongan keselamatan dalam perjalan mereka.

Setiap orang yang berpergian dengan kendraan laut, saat menyebrang dari Ambon menuju Pulau Seram atau sebaliknya, yang melewati Tanjung Sial, akan merasa  sengang, nyaman, dan legah rasanya, setelah melewati Tanjung Sial itu, entah kenapa? Munkin karena kuatnya gelombang laut? Perputaran arus yang tak tentuh? ataukah ada sesuatu, sehingga menyebabkan orang ketakutan? Takut karena ketakutan dan ditakuti? Ataukah memang tanjung itu menakutkan.! Pertanyaan itu, hingga saat ini belum sepenuhnya terungkap. Karena ditanjung itulah, ada sebagian orang sering memberikan sesajen, memohon petunjuk dan membuang kesialan, serta mengharapkan keberkahan dalam melakoni hidup dan kehidupan di alam fana ini.

Tanjung Sial, kramat dan juga sacral, karena di tanjung itu. Juga, ada sebagian masyarakat masih percaya pada kekuatan mistik untuk menyempurnakan ilmunya di tanjung itu, dengan menyebelih hewan untuk dikurbankan kepada roh-roh gaip. Konon, di Tanjung Sial, seorang yang ber etinis Buton pertama kali, datang di Maluku, dan menginjakan kakinya di tanjung sial. Dia, kesiangan di tanjung itu, hingga tanjung itu, juga dikenal dengan Tanjung Siang.

Menariknya, di daerah sekitaran Tanjung Sial. Walaupun di kenal masyarakat Pulau Seram, sebagai tanjung Sakral, dan penuh kramat. Namun, sebagian Masyarakat lainya, menjadikan Tanjung Sial itu, sebagai daerah objek wisata. Tempat rekreasinya, kalangan mudah- mudi Masyarakat Dusun Wayasel, Toholesi, Lauma dan Kasawari. Daerah Objek Wisata bagi mereka yang tinggalnya, tak jauh dari kawasan Tanjung Sial.  Ada anggapan bahwa konon, nenek moyang mereka ada disekitar daerah itu, sehingga dapat melindungi mereka dari segalam macam mara bahaya. Tanjung Sial, memang Sakral juga Kramat namun mengundang sejuta kenikmatan jika meliahat panorama alamnya yang Alamiah. Tentunya asik dipandang mata.

Tetap saja ada orang-orang yang masih menganggap Tanjung Sial itu memang kramat. Saking keramat dan sakralnya aku teringakt pada cerita masyarakat dan kulihat sendiri dimana pada tahun 2011 lalu, masyarakat Seram Bagian Barat dan Maluku Tengah khususnya Dusun dan desa terdekat dengan tanjung sial, dihebokan dengan ditemukan sebuah Batu Putih  kira-kira ukuranya sebesar 2 kali di atas buah kelapa, berada diatas batu ditanjung sial. Menurut cerita konon Batu Putih tersebut berasal dari laut dan tiba-tiba naik ke darat pas berada diatas lempengan batu ditanjung sial.

Peristiwa ini dilihat dan disaksikan langsung oleh salah seorang nelayang yang sedang pancing tonda disekitar laut tanjung sial. Sehingga dari nelayang itulah tersebarlah isu batu putih yang sakral itu. Banyak masyarakat dari Huamual dan Maluku Tengah penasaran akan keberdaaan batu tersebut, sehingga memaksa mereka untuk datang lansung melihat keberadaan batu putih itu. Sebuah Batu Putih konon mengeluarkan tetesan air dari dalam batu yang tidak ada sumbermata air sedikitpun didalam batu tersebut, tapi bisa mengeluarkan air Aneh kan.. ! Sakralnya lagi ketika mereka yang mengunjunginya melihat langsung keberaanya, tidak tanggung-tanggung menaru uang dan barang-barang lain diatas batu tersebut katanya agar diberkahi rezeki. Kemudian ada yang mengambil tetesan air yang keluar dari batu putih itu. Asumsi mereka adalah agar bertambah rezekinnya, dijauhkan dari segala mara bahaya, memang aneh tapi itu nyata.

Menurut cerita, batu putih tersebut memang ada. tetapi batu itu biasanya dalam bahasa etnis nongko disebut “Wacu Lanto,” atau batu yang bisanya sering ditemukan terapung bersama sampah-sampah mengikuti arus laut disaat musim Timur dan Barat tiba. Namun bagi mereka yang datang melihat langsung batu putih tersebut, bahkan mengkleim bahwa batu putih itu adalah menifestasi dari nenekmoyang mereka terdahulu, orang bisa tidak percaya sebab meraka tidak melihat langsung keberadaanya. Hanya orang-orang yang percayalah menganggap semua itu benar keberadaanya. Apa pun bentuk prilaku mereka yang datang di Tanjung Sial, menganggap batu dan tempat itu sacral, harus dihargai karena  Inilahlah sifat yang manusiawi.

Dari pandangan Antropologi Religius, bahwa Manusia sering disebut mahkluk sosiobudaya, atau mahluk yang hidup bersama dalam suatu kesatuan dan mempunyai kebudayaan tersendiri. Dengan kebudayaan, manusia  percaya pada suatu kekuatan yang dianggapnya lebih tinggi darinya, dan mengapa manusia melakukan berbagai macam cara untuk mencari hubungan dengan kekuatan-kekuatan tadi. Ada kalanya pengetahuan, pemahaman, dan daya tahan fisik manusia dalam menguasai dan mengungkap rahasia-rahasia alam sangat terbatas. Secara bersamaan, muncul keyakinan akan kekuatan gaib. Kekuatan yang muncul dari alam, seseorang maupun benda terhadap apa yang dilihat, dirasakan dikerjakan, dan  dilakukan, dari sistem jagad raya ini, dapat mengendalikan manusia sebagai salah satu bagian jagad raya ini.

Oleh sebab itu, kesakralan muncul karena orang percaya, dan yakin bahwa itu benar, segala sesuatu yang dipercaya itu benar adanya sehingga menjadi suatu kepercayaan/religi. Sebab dasar kepercayaan adalah kebenaran sumber kebenaran adalah manusia. Semua aktifitas manusia berkaitan dengan kepercayaan didasarkan pada suatu getaran jiwa yang disebut emosi keagamaan atau “religionus emotion.” Pada suatu getaran jiwa yang disebut emosi keagamaan ini, biasanya dialami oleh setiap orang, walaupun mungkin hanya berlangsung selama beberapa detik saja. Emosi itulah yang mendorong orang untuk melakukan tindakan-tindakan yang bersifat religi. Bersamaan dengan hal tersebut ahli antropologi  E.B Taylor mengatakan manusia memiliki substansi yang sama yaitu keinginan untuk mengetahui keberadaan disekitarnya. Jadi bagi mereka yang mengangap batu putih itu keramat dan tanjung sial sacral karena mereka itu telah dihinggapi oleh getaran jiwa atau emosi keagamaan.

Tanjung  Sial tempat yang keramat, sacral, dan penuh ukiran sejarah, juga sebagai salah satu penetu siapa awal penghuni pulau seram, tersimpan banyak cerita masa lalu nenek moyang mereka yang awalnya mendiami pulau seram. Bahkan sering menjadi kontoveri dikalangan orang-orang seram sendiri saat ini. Terjadi sekte-sekte dikalangan orang seram seperti mereka menyebut itu anak adat itu bukan..!, mereka pendatang mereka Asli pulau seram..! padahal siappun mereka, apapun etnis, ras dan agamanya, mereka tetap adalah asli orang-orang seram karena mereka-mereka itu sedah mendiami pulau seram tersebut secara regenerasi. Pertanyaanya adalah siapa yang mendiami pulau seram duluan? ketika pertanyaan itu muncul, mari kita ukir  kembali bukti historis dan antropolog Tanjung Sial. Singkat kata sekte antara anak adat dan pendatang atau sekte-sekte antara anak seram sendiri dipertajam ketika ada kepentingan segelintir orang yang mengatasnamakan kepentingan kolektif orang-orang seram. Tanjung Sial memang saksi bisu tapi yang bisa dijadikan bukti historis ketika kita sedang bicara tentang penghuni awal Pulau Seram.

Kembali lagi diingatkan bahwa, Tanjung Sial bagi masyarakat seram lain, memang tempat yang penuh keramat nan sacral tapi bagi masyarakat seram Dusun Wayasel, Toholesi, Lauma, Kasawi dan sekitarnya, tempat itu dijadikan sebagai objek wisata, khususnya bagi mereka anak-anak muda yang punya pasangan, menganggap tempat ini asik, nyaman, penuh keamaiyan sebab jauh dari jangkauan masyarakat luas. Kemudian Letaknya sangat stategis, dengan hembusan angin spoy menyapu laut biru mempertemukan kedua arus masuk-keluar Ambon dan seram. apalagi di saat sore hari tiba, panorama allamnya seakan mengundang sejuta kenikmatan ketika pandangan tertuju pada pulau Ambon dan pulau tiga nan jauh disana, menyebabkan Tanjung Sial menjadi perbincangan dan target pelajar disaat libur sekolah. Memang tanjung sial kramat nan sangkral namun mengundang tawa untuk berwisata..asik yuk berwisata ditanjung sial...!!

Disore hari, disaat aku sedang pulang Kampung (Pulkam) bersama kawanku, untuk mengikuti awal ramadhan dikampung. Kala itu, masi ada Spid Bot yang mengangkut penumpang Ambon, menuju Seram, Huamual Barat, di pelabuan Tahoku, Spid yang biasa kami tumpangi. Namun diwaktu yang besaman, masih ada Kapal Tangker sedang berlabuh, di pelabuhan Tahoku. Maksudnya motor yang biasanya menjual minyak, tapi kami senang menyebutnya Kapal Tengker. Karena Motor Laut itu di buat untuk mengangkut minyak.

Kapal Tengkr, asal dari kampung. Sedang berlabuh, mengisi minyak dipelabuhan Tahoku. Aku bersama kawanku, memilih untuk tidak naik spit, dan pulang bersama kapal Tangker. Prinsip kami hari itu, biar lambat asal selamat. Yah lumayan.! Kapal Tangker gratis.. Selain menghemat anggaran, juga bisa menikmati perjalan dan pemandangan dihari itu, kebetulan kondisi cuaca saat itu, bersahabat seakan mengharapkan keberangkatan kami dengan kapal Tangker. Singkat cerita, setelah semua muatan kapal teisi, Kapal pun bersiap-siap berangkat. Aku pun naik, bersama Kawanku Andi dan Riko.

Waktu yang pas, bertepatan kapal berangkat menjelang sore hari. Kapal pun lepsalandas dari pelabuhan Tahoku melaju, menuju Seram Huamual Barat. Untuk menikmati suasana perjalanan, kami hendak duduk diposisi dek paling depan. Mambil keindahan alam, asik bercerita, bercanda gurau. Ditemani sebotol Aqua, yang di campur dengan Kuku Bima Energi, perjalanan menjadi indah dan sempurna, saat rokok Sempurna mengiasi bibir kami. Laju kenderaan dan hembusan angin timur, membuat perjalanan semakin asik dinikmati, indah dipandang mata. Disaat memasuki Tanjung Sial, cerita kami tiba-tiba terhenti. Kami takejut, saat pandangan kami tertuju pada sebuah gumpalan besar menghitam, dilautan biru. Dekat Tanjung Sial, keramat nan sacral itu. Kami mulai terheran kebingungan, jiwa bergetar ketakutan, badan mulai mengigil terasa dingin. Khwatir, namun menkjubkan, Ternyata lumba-lumba dan ikan komu mengumpal hitam memberi isyarat bahwa hewan juga turut menikmati indahnya pemandangan Tanjung Sial disore itu.
[i] Tulisan ini terinspirasi, saat sering pulang kampung melewati Tanjung Sial. Ditulis hanya ditemani secangkir kopi dan sebatang Sempurna.
 
Credit:Sumber



1 ulasan:

  1. http://pelanginewsinfo.blogspot.com/2017/05/pelangiqq-udah-tersangka-kok-masih-ada.html
    http://pelangiqqmyblog.blogspot.com/2017/05/asal-mula-sejarah-permainan-bandarq-di.html
    http://pelangimagazine1945.blogspot.com/2017/05/kemenangan-jackpot-yang-tak-terduga.html

    BalasPadam