Isnin, 22 Jun 2015

Cerita Seram - Rumah Berhantu

Tanpa menyebut lokasi, inilah rumah berhantu yang menggembleng mental saya dalam menghadapi hantu
Saya percaya, bahwa manusia berbagi tempat dengan makhluk tak kasat mata. Saya percaya, bahwa hantu atau jin ada dimana-mana. Di rumah, di jalan, di sekolah, di kantor, di pasar, bahkan di masjid. Ketika ada teman yang membantah karena takut atau tidak percaya, saya kembalikan kepada opini masing-masing. Yang jelas, mereka ada dan nyata. Jika tidak dapat melihatnya, tak perlu merasa takut karena itu terkait dengan keterbakatan saja. Jadi jika tak punya bakat melihat hantu atau jin, berhentilah takut, apalagi memikirkan keberadaan mereka. Jalani hidup dengan bahagia dan mengingat mereka hanya sebagai mitos atau urban legend, tetapi jangan mengingkari keberadaan mereka. Saya berani beropini seperti ini karena saya dan suami beberapa tahun ini hidup di rumah yang berhantu.
8 tahun lalu kami sekeluarga pernah berstatus sebagai pengontrak rumah. Tanpa kami sadari, rumah yang kami kontrak itu termasuk angker. Baiklah.... bodohnya kami. Ada sebuah rumah yang dikontrakkan senilai 500 ribu pertahun (8 tahun lalu) dan kami mengambilnya. Suami hidup nyaman karena ia tidak berbakat melihat hantu (sampai sekarang), tetapi saya mendapat edisi khusus inagurasi hantu. Sesosok kakek bersorban putih datang mengunjungi saya. Tak ada kata-kata, tentu saja. Tak parah, karena kebiasaan saya jika pindah rumah adalah membuat khajatan kecil dengan tetangga baru agar dapat memperkenalkan diri. Si sulung Destin mempunyai bakat melihat hantu dan ia diganggu nenek-nenek bungkuk. Saya dan suami segera mencari cara menutup bakat yang satu ini. Saya pernah menjalani ritualnya membuang bakat anak melihat hantu. Well... tidak bisa disebut ritual, karena bentuknya dzikir dan bacaan alqur'an tertentu sambil mengelus-elus badan anak, melangkahinya, dan aah.. saya lupa tepatnya. Tak ada bunga atau kemenyan. Murni dzikir tertentu dengan jumlah tertentu dan bacaan surat Al qur'an tertentu dengan jumlah tertentu. Hasilnya memang si sulung tak lagi bisa melihat hantu. Kami bertahan di rumah kontrakan itu selama 1 tahun. Dan si bungsu lahir di rumah kontrakan ini. Ari-arinya masih saya tinggal di rumah ini dengan harapan, kelak saya dapat membeli rumah ini nantinya.


Tahun selanjutnya, kami mengontrak sebuah rumah luas sekaligus workshop. Sekali lagi kami merasa sangat beruntung. Rumah workshop besar bernilai sewa 20 juta pertahun saya dapatkan dengan nilai 18 juta per dua tahun. Rumah ini muat menampung mebel sebanyak 2,5 kontiner. Di sebelahnya sebuah masjid. Dan...rumah ini sangat-sangat berhantu. Melihat sosok mirip suami berkelebat di depan mata sudah biasa. Mendengar suara ribut (oarng bicara atau berlarian) di kamar tidur ketika kami di ruang tengah juga sangat-sangat biasa. Bahkan benda bergerak sendiri juga hampir setiap tengah malam. Kabarnya, di rumah ini ada makam bayi yang belum sempat lahir. Uniknya, sesosok wanita berpakaian keraton warna merah pernah muncul dari dalam lemari pakaian saya. Hanya satu kali saja, dan konfirmasi saya dapatkan ketika ada tetangga rumah yang bercerita pada suami tentang wanita berbaju merah yang menempati rumah itu. 

Uniknya, di rumah ini, suami yang tidak memiliki bakat melihat hantu, ikut merasakan kehadiran makhluk tak kasat mata ini. Ia sering mendengar suara tutup (gelas?) diputar dengan bunyi sreg... sreg... atau suara pintu kaca yang digedor-gedor dari luar, suara cekikikan dari pavilyun atas.... Ia tak pernah melihat, hanya mendengar saja. 

Di rumah ini ada 3 orang yang sering dijahili. Saya, suami dan seorang sepupu yang merangkap sebagai pegawai. Alkisah, maghrib tanggal 10 suro 1431, kami sekeluarga tertahan di rumah teman ketika sedang bertamu. Hujan deras campur petir membuat kami cemas akan nasib komputer di rumah yang saat itu sedang online. Rumah itu beberapa kali terkena petir (setiap tahun petir menyambar ke tempat yang sama - tiang telpon) dan sudah 3 x kami ganti komputer karena tersambar petir. Suami menelpon sepupu saya agar mencabut line telpon ke komputer saat itu juga. Perintah dilaksanakan. Ketika akan pulang, listrik mati. Kalang kabut dan dengan penerangan lampu HP, sepupu saya buru-buru mencari kunci motor. Ia mencari kunci selama 1 jam. Semua sudut rumah dicari termasuk ke kolong-kolong meja. Ia membungkuk ke kolong-kolong meja dan kursi, ke sudut-sudut terjauh belakang mebel tempat ia meletakkan kunci meja. Dan tetap tidak ketemu. Ketika ia jengkel dan berkata “Kembalikan kunciku!”, tahu-tahu sebuah kunci nempel di bahunya (ia memakai kaos oblong). Ia segera berlari keluar dan tak mau ke rumah itu sendirian lagi. Hahahaha... ups... harusnya Hihihihi... (Saya beberapa kali diisengi jadi geli saja mengetahui ada yang bernasip sama). Pendek kata, di rumah workshop ini kami belajar mengendalikan rasa takut. Sejak saat itulah, saya nyaman menonton film horor dan mulai suka membuat review film-film horor. Karena di dunia nyata, saya mengalaminya sendiri. Saya bertahan di rumah ini selama 4 tahun. Sungguh 4 tahun yang luar biasa. 


Rumah tinggal saya saat ini juga menjadi rumah singgah 3 jin yang kadang datang menengok. Saya pernah melihat wujud mereka sebagaimana jin, dan pernah melihat dalam wujud almarhum bapak saya. Reaksi saya? Reaksi normal: takut dan cemas, tetapi tidak histeris. Karena saya tahu saya tak bisa mengusir mereka. Ada sesuatu yang mengikat mereka di rumah ini dan satu-satunya yang bisa mengusir mereka adalah almarhum bapak. Katanya begitu. Saya pasrah saja. Toh rumah ini hanya menjadi semacam rumah singgah seperti 2 rumah seram yang saya tempati sebelumnya. Saya akan memiliki rumah saya sendiri kelak, jika saya berhasil mengumpulkan uang lagi. Harapan itu tak pernah sirna. 

Kesimpulan cerita: meski saya beberapa kali melihat hantu/jin, si sulung juga begitu, tetapi suami dan si bungsu tak pernah melihat mereka. Jikalau pernah, hanya berupa bau gosong yang spesifik seperti bau ubi campur jagung dan nasi yang gosong menjadi arang. Itu deskripsi yang dapat saya berikan berkaitan dengan tanda kehadiran jin di sekitar kita – jika mampu merasakannya. Jika tidak? Kamu orang yang sangat-sangat beruntung dan berhentilah takut akan hantu. Bagaimana? Masih takut hantu atau jin? Gapapa... itu reaksi normal kok. Saya juga masih takut pada mereka dan berharap ga bakal ada yang tiba-tiba muncul di depan saya seperti kisah saya bertemu pocong di sebuah hotel dulu. Karena hantu yang paling saya takuti adalah hantu pocong (dan saya pernah bertemu 2 kali! Halah! Mengingatnya masih membuat saya merinding semua.

Credit:Sumber

Tiada ulasan:

Catat Ulasan